logo
Back to Article

AI dan Jurnalisme: Mengutamakan Allah

AI4General

2026-07-31 10:28:00

Tahun lalu, saya menghadiri sebuah konferensi di Museum Alkitab di Washington, D.C. Konferensi itu membahas kecerdasan buatan dan penerjemahan Alkitab.

Beberapa pembicara membahas pentingnya akurasi melalui pengawasan manusia, sekaligus menyoroti efisiensi alat-alat AI demi pemberitaan Injil: menjangkau kelompok-kelompok yang belum terjangkau melalui penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa dengan sumber daya rendah, yaitu bahasa-bahasa yang hanya memiliki sedikit data, atau bahkan tidak memiliki data sama sekali, bagi para penerjemah dan pengembang. Tujuannya? Menjangkau kelompok-kelompok ini pada tahun 2033.

Bagi para ahli tersebut, kunci penggunaan AI yang efektif adalah efisiensi, yaitu kecepatan, dan akurasi. Meskipun mereka bukan jurnalis, apa yang mereka sampaikan sangat relevan bagi pekerjaan jurnalistik kita.

AI dan alat-alat AI bagi jurnalis

Menurut McKinsey & Company, AI adalah "kemampuan sebuah mesin untuk melakukan fungsi-fungsi kognitif yang biasanya kita kaitkan dengan pikiran manusia, seperti memahami, bernalar, belajar, berinteraksi dengan lingkungan, memecahkan masalah, dan bahkan menggunakan kreativitas." Hal ini mencakup AI generatif, yaitu model AI yang menghasilkan konten sebagai respons terhadap suatu perintah atau pertanyaan.

Dalam dunia jurnalistik, ada berbagai alat AI yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi, seperti Grammarly untuk penyuntingan naskah dan Otter untuk transkripsi. Selain itu, ada juga PeopleAI, sebuah chatbot yang memungkinkan jurnalis melakukan riset tentang tokoh-tokoh terkenal di seluruh dunia. Masih banyak alat lain yang dapat ditemukan, termasuk alat teks-ke-suara seperti Murf, serta alat untuk menggambar, membuat karya seni, atau menghasilkan gambar, seperti Google Autodraw.

Bagaimana organisasi media dan jurnalis menggunakan AI

Organisasi media berita, baik media arus utama maupun media Kristen, menggunakan alat-alat tersebut dan berbagai alat AI lainnya untuk riset, menulis teks alternatif demi aksesibilitas bagi penyandang disabilitas netra, menemukan celah liputan, serta menerjemahkan artikel ke dalam bahasa Spanyol dan Portugis untuk melayani pembaca mereka di Amerika Latin. Sebagai contoh, kantor berita Reuters menggunakan alat penerjemahan suara berbasis AI untuk tujuan yang terakhir ini.

Organisasi berita lain menggunakan alat AI untuk menulis judul berita, mengoptimalkan mesin pencari agar berita dan perusahaan mereka muncul lebih tinggi dalam hasil pencarian, serta membuat ringkasan artikel. Dengan begitu, pembaca dapat memperoleh gambaran singkat tentang isi berita sejak awal. Ringkasan yang dibuat dengan bantuan AI sangat menolong orang-orang yang sibuk dan tidak sempat membaca seluruh artikel, tetapi tetap ingin memahami poin-poin utamanya. Selain itu, organisasi berita juga menggunakan alat AI untuk mengkurasi dan merekomendasikan artikel yang sesuai dengan minat pembaca.

Namun, penggunaan AI dapat menimbulkan berbagai tantangan etis, termasuk bias, ketidakakuratan, menurunnya kepercayaan publik, dan pelanggaran hak kekayaan intelektual. Karena itu, banyak organisasi berita telah menetapkan kebijakan khusus untuk memastikan penggunaan AI yang bertanggung jawab oleh staf maupun pekerja lepas. Organisasi seperti Poynter Institute bahkan telah menyediakan templat kebijakan. Sebagai contoh, Christian Daily International memiliki daftar penggunaan AI yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Organisasi tersebut, misalnya, menyatakan bahwa para jurnalisnya tidak boleh menggunakan AI untuk menulis keseluruhan artikel, baik berita maupun opini. Di sisi lain, mereka yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua dapat memakai alat seperti ChatGPT untuk membantu memperbaiki ungkapan mereka dalam bahasa Inggris.

Kekhawatiran etis dan solusinya untuk teks

Jelas bahwa menggunakan alat AI untuk menulis berita merupakan jebakan etis. Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:26-28). Karena itu, kita memiliki kemampuan berpikir dan berkreasi, serta pelatihan yang diperlukan untuk menulis kisah-kisah yang menarik. Sebagaimana disampaikan oleh Yvonne Carlson, yang melayani dalam Dewan Direksi NRB dan Komite Media Digital NRB, dalam sebuah diskusi NRB tentang topik ini, Roh Kudus dapat bekerja melalui diri kita ketika kita sendiri yang menulis.

Kekhawatiran lain dalam penggunaan alat AI adalah ketidakakuratan, atau yang sering disebut "halusinasi digital", yaitu kesalahan yang dihasilkan oleh sistem AI. Kita semua mungkin pernah mengalami saat Grammarly, misalnya, memberikan saran perbaikan yang ternyata tidak tepat. Syukurlah, kita memiliki kemampuan tata bahasa untuk menilai bahwa saran tersebut tidak akurat. Kita juga mungkin pernah menggunakan alat seperti Otter, tetapi hasil transkripsinya membuat narasumber seolah-olah mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak dia katakan. Bagaimana jika ChatGPT digunakan untuk meneliti seseorang? Bisa jadi, referensi yang diberikan untuk pendalaman lebih lanjut ternyata tidak berkaitan dengan orang yang sedang diteliti. Semua ini merupakan persoalan yang sedang dihadapi para jurnalis.

Untuk mengurangi ketidakakuratan, salah satu langkah penting adalah melakukan verifikasi atau pemeriksaan fakta. Menggunakan berbagai sumber untuk memastikan kebenaran informasi sangatlah penting. Menghubungi sumber secara langsung, baik secara pribadi maupun melalui situs web resminya, juga merupakan langkah yang ideal.

Kekhawatiran etis dan solusinya untuk gambar

Hal yang sama berlaku untuk gambar. Jika Anda menemukan sebuah gambar dan tidak yakin tentang asal-usulnya, pastikan terlebih dahulu sumbernya. Lakukan pencarian gambar terbalik, misalnya dengan menggunakan fitur pencarian gambar Google. Jika gambar tersebut memang ada, Anda akan menemukannya di internet dengan keterangan sumber tertentu sehingga Anda dapat memberikan atribusi yang tepat. Jika gambar itu tidak ditemukan secara daring, hal tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa gambar itu mungkin dihasilkan oleh AI dan tidak merujuk pada objek atau peristiwa nyata. Dalam situasi seperti itu, lebih baik tidak menggunakan gambar tersebut karena Anda tidak dapat mengaitkannya dengan sumber yang jelas dan spesifik.

Selain itu, Anda juga perlu selalu mengetahui kebijakan AI yang berlaku, baik melalui situs web organisasi media maupun dengan bertanya langsung kepada editor yang bekerja bersama Anda. Jika belum ada kebijakan yang ditetapkan, Anda dapat menjelaskan kepada editor bagaimana Anda berencana menggunakan AI berdasarkan praktik terbaik dan penggunaan etis yang telah diterapkan oleh organisasi media lain. Setelah itu, tanyakan apakah dia setuju dengan penggunaan AI tersebut.

Melihat ke depan

Meskipun Allah telah mengaruniakan alat-alat AI untuk mempermudah pekerjaan kita, kita harus tetap bijaksana dalam menggunakannya. Kita perlu memastikan bahwa cara kita memakai alat AI memuliakan Allah. Artinya, kita tetap harus melakukan hal-hal yang telah Allah percayakan dan karuniakan kepada kita untuk dikerjakan: menulis, melakukan riset yang mendalam, memverifikasi informasi, memeriksa kembali ketepatan tata bahasa, melakukan wawancara, dan mengambil foto. Sementara itu, alat AI digunakan untuk membantu kita menyelesaikan tugas-tugas tersebut, atau tugas-tugas yang berkaitan dengannya, secara lebih efisien agar kita dapat memenuhi tenggat waktu yang ketat.

Saat kita menatap masa depan bersama alat-alat AI, marilah kita mengingat hal ini: meskipun penggunaan teknologi itu penting, firman Tuhan harus selalu menjadi yang utama. (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : Evangelical Press Association
Alamat artikel : https://www.evangelicalpress.com/ai-and-journalism-keeping-god-first/
Judul asli artikel : AI and Journalism: Keeping God First
Penulis artikel : Akosua Frempong
YLSA SABDA

Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati

Contacts

WhatsApp:

0881-2979-100
Social

Copyright © 2023 - Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). All Rights Reserved