logo
Back to Article

40% Generasi Z dan Milenial Menganggap Nasihat Rohani dari AI Setara dengan Nasihat dari Pendeta

AI4General

2026-07-31 11:07:00

AI sedang mengincar pekerjaan pendeta Anda.

Seiring semakin banyaknya Generasi Z dan milenial yang meminta nasihat rohani kepada AI, survei terbaru dari Barna Group dan perusahaan teknologi berbasis iman Gloo menemukan bahwa dua dari lima responden menganggap panduan yang mereka peroleh sama dapat dipercayanya dengan nasihat seorang pendeta. Dengan kata lain, bagi banyak orang, daftar "otoritas rohani yang dipercaya" dalam hidup mereka kini menempatkan pendeta di balik mimbar dan aplikasi di saku pada tingkat yang setara.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang Kristen tidak menggunakan AI sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu. Sekitar empat dari sepuluh orang Kristen yang aktif menjalankan imannya mengatakan bahwa AI telah membantu mereka berdoa atau bertumbuh secara rohani.

Namun, di sinilah bagian yang tidak nyaman: ChatGPT terbukti memberikan nasihat yang buruk.

Ambil contoh studi terbaru yang dipimpin oleh Universitas Oxford mengenai chatbot AI dan pengambilan keputusan medis. Para peneliti menemukan bahwa pengguna chatbot populer sering kesulitan menentukan jawaban yang tepat. Hasil mereka kurang lebih sama dengan orang-orang yang menggunakan Google dalam skenario serupa.

Masalah yang lebih besar bukan sekadar apa yang "diketahui" oleh chatbot tersebut. Tim Oxford menyoroti persoalan manusia yang rumit, tetapi mudah diduga: orang jarang memberikan informasi yang jelas dan lengkap. Pengguna kerap tidak menyertakan detail penting, salah memahami penjelasan yang mereka terima, atau mengabaikan panduan yang tidak mereka sukai. Akibatnya, bahkan jawaban yang terdengar meyakinkan dapat dibangun di atas informasi yang tidak lengkap dan asumsi yang lemah.

"Spiritualitas dan agama sejak dahulu melibatkan kepercayaan kepada kekuatan yang melampaui pemahaman manusia," kata Douglas Yeung, ilmuwan senior bidang perilaku dan sosial di RAND. "Namun, yang terpenting, kepercayaan itu selama ini diperantarai oleh institusi manusia -- rohaniwan, teks-teks suci, dan komunitas yang dibangun di atas hikmat serta akuntabilitas yang teruji selama berabad-abad."

Kesenjangan ini menjadi persoalan ketika orang mulai memperlakukan AI sebagai otoritas yang layak dipercaya untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut keputusan penting, baik "Apakah saya harus segera mencari perawatan medis?" maupun "Apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya?"

"Meskipun mayoritas orang Kristen yang aktif menjalankan imannya masih menjadi kelompok yang paling berhati-hati dalam menerima AI sebagai alat rohani, pandangan mereka mulai berubah, tetapi sebagian besar belum dibentuk oleh masukan dari pendeta mereka," kata Daniel Copeland, wakil presiden bidang penelitian di Barna. "Di sinilah terdapat kesempatan nyata bagi para pendeta untuk membimbing jemaat mereka dalam menggunakan teknologi ini dengan cara yang bermanfaat, terutama karena pendeta tetap termasuk di antara pembimbing yang paling dipercaya dalam memadukan iman dan teknologi." (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : Relevant Magazine
Alamat artikel : https://relevantmagazine.com/culture/40-of-gen-z-and-millennials-say-asking-ai-for-spiritual-advice-is-as-trustworthy-as-a-pastor/
Judul asli artikel : 40% of Gen Z and Millennials Say Asking AI for Spiritual Advice Is as Trustworthy as a Pastor
Penulis artikel : Emily Brown
YLSA SABDA

Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati

Contacts

WhatsApp:

0881-2979-100
Social

Copyright © 2023 - Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). All Rights Reserved