Haruskah Pelayan Kristen Meninggalkan Teknologi Digital?
2026-07-31 08:34:00
AI Generate Summary
Dua tahun lalu, saya tersandung dan terjatuh ke dalam studi PhD tentang teologi digital, meneliti seperti apa hikmat digital bagi pendeta, imam, atau pemimpin pelayanan Kristen pada umumnya. Pertanyaan utama yang sering ditanyakan kepada saya ketika topik ini muncul dalam percakapan—dan juga yang saya tanyakan pada diri sendiri setiap hari—adalah: Mengapa?!
Seperti kebanyakan milenial, saya sudah berkutat dengan pembuatan konten digital sejak modem dial-up keluarga saya pertama kali menggores jiwa muda saya dengan suara jeritan bernada tinggi itu. Saya telah bekerja di bidang komunikasi digital dan pelayanan digital hampir sepanjang hidup dewasa saya. Dan sejak pandemi, saya menjadi pendeta komunitas daring di gereja lokal saya.
Saya bersyukur atas kreativitas, ekspresi, dan akses yang telah diberikan media digital selama bertahun-tahun. Namun, saya juga sering kesulitan untuk berhenti, mengatur perhatian, dan menekan rasa takut saya tentang perang budaya online, misinformasi, deep fakes, penularan kecemasan, dan para troll yang tampaknya ada di mana-mana.
Narasi dominan dalam literatur populer adalah mendefinisikan dan mengecam masalah dari media digital. Tidak mengherankan jika banyak penelitian mengulangi dampak negatif media sosial terhadap harga diri, perhatian, dan kesehatan mental, terutama pada anak-anak. Banyak penulis juga membagikan pergumulan mereka dengan media digital, yang mengurangi kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan mendalam, membaca buku untuk kesenangan, dan terlibat dalam dunia nyata.
Saya telah mencari solusi atas dilema internet saya, dan saran Utama baik dari para komentator Kristen maupun sekuler adalah melepaskan diri dari jaringan. Sayangnya, banyak dari kita bekerja, bersosialisasi, terhubung dengan keluarga dan teman yang terpencar secara geografis, bahkan melayani secara online. Pada titik ini, melepaskan diri bukanlah sebuah pilihan.
Yang kita hadapi bukanlah masalah teknologi; ini adalah masalah manusia.
Bagi para pemimpin Kristen, menarik diri dari lingkungan media digital mungkin dapat memenuhi kebutuhan kita, tetapi tidak memenuhi kebutuhan orang lain. Bukan orang-orang tak dikenal “di luar sana” di internet, melainkan orang-orang di gereja kita yang harus menavigasi lanskap digital yang terus berubah. Bukan hanya “anak muda”, tetapi juga orang lanjut usia, mereka yang sakit, penyandang neurodivergensi, mereka yang mengalami kecemasan berat, mereka yang memiliki kebutuhan aksesibilitas khusus, pekerja shift, dan siapa pun yang memiliki pekerjaan di balik meja.
Sementara gereja-gereja dan pemimpin pelayanan tetap sangat terlibat dalam komunitas lokal dan tatap muka, kita tidak bisa mengabaikan media digital ketika ada 25,21 juta pengguna internet Australia (94,9 persen dari populasi), dan 20,80 juta pengguna media sosial Australia (78,3 persen dari populasi). [1]
Dengan rata-rata pengguna Australia menghabiskan sekitar 5 jam 51 menit online per hari [2] (sekitar 35 persen dari waktu bangun rata-rata), koneksi yang sepenuhnya tatap muka terasa seperti fokus yang terlalu sempit. Teologi kita seharusnya menuntun penggunaan teknologi digital kita, tetapi tidak boleh membuat kita berpaling dari kebutuhan manusia yang berada di dunia digital. Kita membutuhkan pemimpin Kristen untuk berkontribusi secara positif di ruang digital yang dihuni komunitas kita.
Bagaimana pemimpin pelayanan biasa memotong kebisingan di internet untuk dapat terhubung secara mendalam dengan orang-orang? Bagaimana kita melakukannya tanpa kehilangan diri kita sendiri? Jawabannya, singkatnya, adalah literasi digital.
Apa sebenarnya literasi digital itu?
Sebagian besar sistem pendidikan di seluruh dunia telah memprioritaskan literasi digital sebagai kompetensi penting bagi anak-anak dan remaja yang menghadapi dunia di mana informasi didemokratisasi dan kadang-kadang dijadikan senjata. Namun, menurut studi Australia tahun 2020 tentang Literasi Media Dewasa, sebagian besar orang Australia memiliki kepercayaan diri rendah terhadap kemampuan media mereka, dengan kurang dari setengahnya merasa percaya diri dalam 10 dari 12 kemampuan media yang tercantum. [3]
Literasi digital, yang menjadi fokus spesifik dari penelitian saya, bukan hanya mengetahui cara menavigasi internet. Ada banyak kerangka literasi digital dalam literatur akademik, tetapi secara luas konsep ini mencakup: cara kita merefleksikan media digital dan penggunaannya, cara kita memahami pengaruh dan dampaknya, cara kita menggunakan media digital, cara kita mengelola hubungan sosial dan tujuan pribadi secara online, serta penerapan etika dalam penggunaan media digital.
Komponen yang sering hilang dari kerangka ini adalah cara kita mengelola diri kita sendiri secara online—kesejahteraan kita, kebiasaan berinteraksi dan terputus, serta pengelolaan formasi diri kita. Di sinilah teologi dapat membantu memperluas dan mempengaruhi percakapan ini dengan rendah hati.
Ini adalah beberapa pertanyaan yang akan diteliti dalam studi riset saya ketika saya mensurvei para pemimpin pelayanan tentang literasi digital mereka. Pada tahun 2024, saya akan melakukan tiga survei:
- Satu untuk para pemimpin pelayanan Kristen di Australia dari berbagai denominasi.
- Satu untuk anggota jemaat Kristen di Australia.
- Satu untuk para supervisor profesional dari para pemimpin pelayanan Kristen di Australia.
Diri saya >> online
Algoritma dirancang untuk menjaga perhatian kita terikat pada berita, gosip, kemarahan, iri hati, dan kebisingan. Namun, keributan itu bukanlah satu-satunya yang membuat wajah kita terus diterangi layar biru hingga larut malam—ada sesuatu di dalam diri kitalah yang turut menyumbang masalah ini.
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenali hatiku, ujilah aku dan kenali pikiran-pikiranku. Dan, lihatlah jika ada jalanku yang mendukakan, dan pimpin aku pada jalan kekekalan.”
Mazmur 139:23-24 (AYT)
Dengan menganalisis sampel kelompok satu orang (yaitu, diri saya sendiri), saya dapat melihat bahwa terkadang ada kecemasan yang membekas, kemarahan terpendam, atau kemiskinan jiwa dalam diri saya yang mengonsumsi sampah itu. Itulah yang mendorong saya untuk terus menggulir tanpa henti. Saya yakin saya bukan satu-satunya. Saya tidak bisa hanya menyalahkan teknologi karena memakan waktu luang saya; saya perlu melihat hidup saya, pilihan-pilihan saya, kebiasaan saya, kesehatan emosional dan spiritual saya, yang perlu ditebus dan dengan penuh kasih ditaklukkan kepada Allah.
Ya, teknologi, termasuk AI, harus diatur, terutama dalam kehidupan anak-anak. Namun, pada akhirnya, saya percaya segala sesuatu yang kita hadapi bukanlah masalah teknologi; ini adalah masalah manusia. Inilah alasan saya meyakini teologi memiliki kesempatan untuk memimpin percakapan seputar etika dan kesejahteraan di ruang digital. Apa tanggung jawab saya terhadap orang lain? Bagaimana kita dapat menggunakan dan membangun teknologi untuk menolong orang miskin dan terpinggirkan? Bagaimana kita dapat membagikan kasih Yesus di ruang digital? Bagaimana kita dapat terlibat dan meneladani formasi digital dan spiritual yang positif?
“Akan tetapi, buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, keramahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Tidak ada hukum yang melawan hal-hal ini!”
Galatia 5:22-23 (AYT)
Saya tidak percaya masa depan akan sedramatis yang diberitakan media pada umumnya… jarang sekali demikian. Kita terlalu memberikan banyak penghargaan pada kekuatan teknologi dan terlalu sedikit menghargai diri kita sendiri.
Banyak dari kita telah mengambil jeda dari media digital, serta menyadari ketika konsumsi informasi atau konten terkurasi kita menjadi berlebihan. Kita semua pernah menggunakan media digital secara positif: membagikan dorongan, doa, firman, atau kesaksian; memberi kepada lembaga amal yang kita temui secara online; meneliti dan belajar hal baru. Saat kita semua merefleksikan kebiasaan digital kita dan berbagi pengalaman, pergumulan, dan hikmat, kita dapat mulai menciptakan ruang aman bagi diri sendiri dan orang lain dalam lingkungan digital kita.
Untuk terhubung, mengikuti perjalanan riset saya, atau berpotensi berkontribusi pada salah satu survei saya di tahun 2024, silakan kunjungi newsletter SubStack saya dan hubungi saya. Saya ingin sekali mendengar pemikiran dan pengalaman Anda dengan teknologi digital atau bertukar rekomendasi bacaan dalam bidang ini.
[1] Digital Global Overview Report (2024) diterbitkan bekerja sama dengan Meltwater dan We Are Social.
[2] Social Media Statistics Report (2023) oleh Meltwater.
[3] Notley, T., Chambers, S., Park, S., Dezuanni, M. 2021, Adult Media Literacy in Australia: Attitudes, Experiences and Needs. Western Sydney University, Queensland University of Technology and University of Canberra.
(t/Jing-jing)| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Eternity News |
| Alamat artikel | : | https://eternitynews.com.au/christian-living/should-christian-ministers-quit-digital-technology-digital-wisdom/ |
| Judul asli artikel | : | Should Christian ministers quit digital technology? |
| Penulis artikel | : | Aziza Green |
Copyright © 2023 - Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). All Rights Reserved