Menghadapi Kredo-Kredo Budaya (Daniel 1)
2026-07-31 10:15:00
AI Generate Summary
-
Artikel ini membahas bagaimana umat Kristen harus menghadapi perubahan budaya kontemporer dan "kredo-kredo sekuler" yang seringkali bertentangan dengan ajaran Alkitab. Menggunakan kisah Daniel di Babel sebagai model, penulis menekankan bahwa dalam setiap era, gereja ditantang untuk mempertahankan identitas iman yang teguh. Kunci bertahan adalah memiliki perspektif yang diperbarui (melihat kedaulatan Allah atas segala situasi), menjaga integritas pribadi, dan menyeimbangkan antara kasih karunia serta kebenaran.
- Perubahan zaman selalu terjadi, dan tantangan modern seringkali berkaitan dengan definisi identitas, moralitas, dan hak-hak dasar manusia yang dipopulerkan oleh budaya sekuler.
- Kisah Daniel menunjukkan bahwa menghadapi tekanan budaya ("Babel") memerlukan keteguhan hati untuk tidak mencemarkan keyakinan inti (seperti menolak santapan raja) sambil tetap cerdas dan dihormati secara duniawi.
- Untuk bertahan, orang Kristen harus memiliki perspektif yang diperbarui, yaitu menyadari bahwa Allah memegang kendali atas segala peristiwa, termasuk penderitaan atau tekanan budaya.
- Sikap yang ideal adalah menyeimbangkan kasih karunia (mengasihi sesama) dengan kebenaran (mempertahankan ajaran ilahi), serta siap melakukan pembangkangan sipil ketika hukum manusia bertentangan dengan hukum moral Allah.
- Kredo Budaya Sekuler
- Daniel di Babel
- Integritas Iman
- Kasih Karunia dan Kebenaran
- Perubahan Zaman
- Perspektif Ilahi
MOTIVASI
Dunia kita berubah lebih cepat daripada kesiapan kebanyakan orang untuk menghadapinya. Banyak orang menganggap pandemi 2020 seperti jeda iklan dalam sebuah acara televisi. Mereka masih menunggu kembalinya keadaan yang dahulu dianggap normal.
Secara keseluruhan, tahun 2020 bukan sekadar sebuah episode, melainkan penanda sebuah era -- pandemi tidak menciptakan banyak perubahan di dunia, tetapi mempercepat perubahan-perubahan yang sudah berlangsung.
- Perubahan pandangan tentang dunia fisik dan dunia virtual. - Perubahan pandangan tentang identitas dan moralitas. - Perubahan pandangan tentang kepedulian, belas kasih, kesetaraan, keadilan, dan kebenaran. - Perubahan pandangan tentang kekuasaan, kepemimpinan, dan institusi. - Perubahan pandangan tentang bangsa dan perbatasan. - Perubahan pandangan tentang perubahan itu sendiri. Jika kita takut terhadap perubahan dan tidak belajar menghadapinya dengan bijaksana, kita mungkin akan mengalami tantangan yang berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahami dan menanganinya.Perubahan selalu terjadi dalam setiap era sejarah kekristenan.
- Kisah Para Rasul 17:21 dan ayat-ayat selanjutnya menggambarkan orang-orang Athena yang gemar membicarakan gagasan-gagasan baru dan mendengarkan pemberitaan tentang kebangkitan.
- Pada abad-abad awal Masehi, gereja memperdebatkan pandangan Gnostik mengenai kemungkinan Allah mengambil natur manusia yang fana dan mengenai hubungan antara tubuh jasmani dan roh.
- Pada abad ke-14 hingga ke-16, gereja mereformasi pandangannya mengenai akses kaum awam terhadap Kitab Suci dan perbedaan antara gereja dengan liturgi tinggi dan gereja dengan liturgi sederhana. Pada masa itu, metode ilmiah juga berkembang dari keyakinan orang Kristen bahwa Allah menciptakan dunia dengan hukum-hukum yang konsisten dan sistem yang bekerja secara teratur.
- Pada abad ke-18 hingga ke-20, gereja menghadapi Pencerahan modern dan para pengkritik antisupranaturalisme yang menyerang Alkitab. Banyak orang mengira bahwa upaya mereka untuk membuktikan Alkitab keliru akan membuatnya ditinggalkan. Namun, "rumput layu dan bunga gugur, tetapi firman Allah kita tegak selama-lamanya" (Yes. 40:8, AYT).
- Abad ke-21 tidak berbeda. Gereja tetap harus "berjuang sungguh-sungguh untuk iman yang disampaikan sekali untuk selamanya kepada orang-orang kudus" (Yudas 1:3, AYT). Tantangan mendesak yang dihadapinya serupa dengan tantangan pada abad-abad sebelumnya karena tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Salah satu tantangan terbesar berkaitan dengan identitas -- biologi, gender, ras, seksualitas, dan pemahaman tentang arti manusia diciptakan menurut gambar Allah.
C. S. Lewis mengungkapkannya dengan tajam: "Dan sepanjang waktu -- demikianlah tragikomedi keadaan kita -- kita terus menuntut kualitas-kualitas yang justru sedang kita buat mustahil. Hampir setiap majalah memuat pernyataan bahwa peradaban kita membutuhkan lebih banyak ‘dorongan’, dinamisme, pengorbanan diri, atau ‘kreativitas’. Dengan kesederhanaan yang mengerikan, kita membuang organ yang diperlukan, lalu menuntut fungsinya. Kita menciptakan manusia tanpa dada, lalu mengharapkan kebajikan dan keberanian dari mereka. Kita menertawakan kehormatan, tetapi terkejut ketika menemukan pengkhianat di tengah-tengah kita. Kita mengebiri, lalu meminta mereka yang telah dikebiri itu berbuah."[1] (C. S. Lewis, "The Abolition of Man")
Dalam bahasa yang lebih sederhana, Lewis mengecam kecenderungan manusia untuk mengutamakan tren daripada kebenaran dan kedangkalan daripada substansi.
Hari ini kita memulai seri khotbah berjudul "Menghadapi Kredo-Kredo Budaya dengan Anugerah dan Kebenaran". Sebentar lagi kita akan menelaah Daniel 1. Seri ini banyak dipengaruhi oleh Rebecca McLaughlin, seorang penulis dan doktor lulusan University of Cambridge. Dalam beberapa tahun terakhir, dia menulis sejumlah buku, antara lain "Confronting Christianity", "10 Questions Every Teen Should Ask and Answer About Christianity", "Is Christmas Unbelievable?", dan "Is Easter Unbelievable?". Secara khusus, bukunya "The Secular Creed" menjadi salah satu landasan utama seri ini. Hari ini, kami juga membagikan sekitar 50 eksemplar buku tersebut.[2]
Kata kredo berasal dari bahasa Latin yang berarti "saya percaya". McLaughlin berpendapat bahwa budaya kontemporer memegang lima klaim utama yang kerap dipopulerkan melalui papan-papan tanda bertuliskan:
Di rumah ini kami percaya bahwa:
- Kehidupan orang kulit hitam itu berharga.
- Cinta adalah cinta.
- Hak-hak kaum gay adalah hak-hak sipil.
- Hak-hak perempuan adalah hak asasi manusia.
- Perempuan transgender adalah perempuan.
Namun, lahan moral tempat dunia menanam gagasan-gagasannya hanya ada karena Allah menciptakannya. Konsep kesetaraan, kasih, dan keberagaman berawal dari rancangan Allah, bukan dari definisi ulang dunia.
- Orang Kristen percaya bahwa kehidupan orang kulit hitam berharga karena mereka berharga di mata Yesus. Gereja Allah terdiri dari kumpulan besar orang dari setiap suku, bahasa, dan bangsa yang beribadah bersama sebagai satu tubuh.
- Orang Kristen tidak percaya bahwa "cinta adalah cinta", tetapi bahwa Allah adalah kasih.
- Orang Kristen percaya bahwa hak perempuan harus ditegakkan karena Allah menciptakan perempuan dan laki-laki menurut gambar-Nya. Atas dasar yang sama, kita juga percaya bahwa setiap bayi dalam kandungan memiliki hak untuk hidup.
- Orang Kristen percaya bahwa gender sangat terdampak oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa, tetapi tetap berakar pada realitas biologis.
- Orang Kristen percaya bahwa Allah memberi perhatian khusus kepada anak yatim, ibu tunggal, janda, pendatang, penyandang kebutuhan khusus, dan orang miskin. Kitab Suci menyatakan hati Allah bagi mereka, dan Yesus menunjukkan kepedulian Allah kepada orang-orang yang paling lemah dan terpinggirkan.
Hari ini kita memulai seri ini dengan menelaah Daniel 1 dan 1 Tawarikh 12:32.
1 Tawarikh 12:32 (AYT) "Dari suku Isakhar, yang memahami masa sehingga mengetahui apa yang harus Israel lakukan."
Suku Isakhar hanya mengirimkan 200 orang, jumlah paling sedikit di antara suku-suku yang datang untuk mengangkat Daud menjadi raja atas Israel. Namun, kehadiran mereka sangat berarti karena mereka mampu memahami zaman dan menentukan tindakan yang perlu diambil. Mereka tidak hanya memahami masalah, tetapi juga mengetahui langkah yang harus dilakukan. Orang Kristen masa kini pun perlu belajar bukan sekadar melihat dan meneriakkan kesalahan, melainkan menyingsingkan lengan baju dan bertindak dengan iman, pengharapan, dan kasih.
Nabi Daniel merupakan contoh yang sangat baik dari prinsip ini.
PENELAAHAN
Kredo Sekuler (Daniel 1)
Fakta tentang Daniel
- Nama Daniel berarti "Allah adalah Hakim". Ini mengingatkan kita bahwa keyakinan kita harus berkenan kepada Allah, bukan sekadar menyenangkan diri sendiri atau orang lain.
- Daniel hidup pada abad ke-6 SM. Dia berasal dari suku Yehuda dan garis keturunan Daud.
- Daniel adalah orang yang beriman teguh kepada Allah serta memiliki hikmat dan pengertian (Dan. 1:20; 5:11).
- Daniel memiliki karakter yang menonjol. Nuh pernah jatuh dalam kemabukan. Abraham pernah berbohong dan melakukan perzinaan. Yakub dikenal sebagai penipu. Musa bergumul dengan ketakutan dan kemarahan. Namun, Daniel menonjol karena hasrat dan prioritas hidupnya tertuju kepada Tuhan.
Keadaan yang Dihadapi Daniel
- Yehuda akhirnya jatuh ke tangan Babel pada 586 SM, sedangkan Daniel telah dibuang ke Babel pada 605 SM.
- Secara historis, Babel menjadi simbol kebobrokan manusia dan pada akhirnya juga melambangkan penghakiman Allah.[3]
- Raja Nebukadnezar terkenal karena kekuasaannya yang besar dan kesombongannya yang menjijikkan.[4]
- Penaklukan militer, perekonomian, dan pembangunan kota berkembang pesat. Sekolah, kemampuan baca-tulis, matematika, dan keterampilan kerajinan juga mengalami kemajuan.
- Kota itu memiliki tembok luar sepanjang sekitar 11 mil yang mengelilingi wilayah pinggirannya dan dilengkapi sejumlah gerbang. Temboknya cukup lebar untuk dilalui dua kereta perang secara berdampingan.
- Kota itu memiliki ruang takhta yang sangat luas.
- Sebuah kuil raksasa bagi dewa pelindung kota terdiri dari tujuh tingkat dan menjulang sekitar 300 kaki di atas kota.
- Nebukadnezar kejam dan sangat sombong. Dia menuntut penyembahan kepada dirinya. Bahkan, Saddam Hussein pernah menganggap dirinya sebagai reinkarnasi Raja Nebukadnezar.
Banyak orang beriman masa kini mungkin akan kesulitan bertahan, apalagi berkembang, jika hidup di Babel kuno. Lalu, bagaimana seharusnya kita merespons "Babel" masa kini? Bagaimana kita dapat menghadapi kredo-kredo budaya dengan anugerah dan kebenaran? Mari kita belajar dari kehidupan Daniel.
Catatan 1: Generasi yang lebih tua terkadang merindukan "masa-masa indah dahulu" (bdk. Pkh. 7:10) karena melihat budaya masa kini yang tidak bermoral, pemimpin pemerintahan yang tidak kompeten, kaum muda yang tidak bertanggung jawab, media yang tidak akurat, dan masyarakat yang kurang berpengetahuan. Namun, setiap generasi cenderung mengabaikan kesalahannya sendiri. Tahun 1950-an dan 1960-an mungkin dikenal memiliki nilai keluarga yang kuat, tetapi kebebasan komunitas kulit hitam dan kaum perempuan masih sangat terbatas. Amoralitas seksual juga merajalela melalui budaya "cinta bebas", belum lagi penyalahgunaan narkoba dan