Pelayanan Pastoral Kristen dan AI yang Mendukung Pendampingan
2026-07-31 10:24:00
AI Generate Summary
Kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) telah membuat perangkat berbasis AI merambah berbagai sisi kehidupan manusia, bahkan menjadi bagian dari komunitas manusia. Dalam konteks ini, istilah "pendamping buatan" (artificial companion) digunakan untuk merujuk pada semua perangkat komputasi yang dirancang untuk "mengenal pemiliknya ... serta tidak hanya berfokus pada bantuan melalui internet (kontak, perjalanan, dokter, dan sebagainya), yang bagi banyak orang masih sulit digunakan, tetapi juga menemani dan memberikan kebersamaan melalui berbagai bentuk personalisasi."[1] Mengingat dominannya peran AI dalam teknologi masa kini, pendamping buatan biasanya mengacu pada perangkat berbantuan AI yang digunakan untuk menemani manusia, baik berupa chatbot, robot AI, robot perawat (carebot), maupun sistem berbasis AI lainnya.
Kita perlu mengakui bahwa AI dan teknologi digital lainnya memberikan manfaat bagi praktik perawatan dan pendampingan manusia, misalnya melalui robot perawat bagi lansia dan robot layanan kesehatan. Namun, yang masih diperdebatkan ialah cara pendamping buatan diterapkan dalam kehidupan manusia. Persoalan ini memunculkan pertanyaan lebih lanjut tentang penggunaan pendamping buatan dalam pelayanan pastoral di komunitas keagamaan. Teknologi pendamping buatan telah diterima oleh sejumlah komunitas keagamaan. Salah satu contohnya ialah Alexa Skill. Gereja Inggris bekerja sama dengan Amazon untuk menciptakan Alexa Skill yang dapat membacakan doa, menjelaskan iman Kristen, mendukung kesehatan mental, dan menjalankan fungsi lainnya. Fitur ini telah banyak dimanfaatkan di lingkungan gereja. Pdt. Katherine Hedderly, vikaris All Hallows by the Tower, berkata, "Saya dapat melihat bagaimana fitur ini membantu anggota jemaat merenungkan dengan lebih mendalam momen-momen penting, seperti masa Prapaskah dan Natal."[2]
Pelayanan pastoral berbasis AI menimbulkan kegelisahan di kalangan pelayan agama dan kebingungan dalam sebagian komunitas keagamaan karena pelayanan pastoral merupakan salah satu pilar komunitas tersebut. Salah satu tanggung jawab utama pelayan agama ialah memberikan perawatan dan pendampingan ketika orang percaya mengalami penderitaan atau kesulitan mental maupun fisik. Teknologi AI menghadirkan tantangan bagi para pelayan agama dan komunitas keagamaan: apakah pelayanan pastoral dapat dilakukan oleh robot pelayanan pastoral (pastoral carebot), dan sejauh mana hal itu dapat dilakukan? Dapatkah sistem berbasis AI digunakan dalam komunitas keagamaan untuk memberikan pelayanan pastoral pada setiap tingkat? Jika dapat, apa peran pelayan manusia dalam pelayanan pastoral pada era AI? Untuk membahas pertanyaan-pertanyaan ini, saya akan menggunakan pelayanan pastoral Kristen sebagai studi kasus.
David Lyall, mantan pimpinan New College dan dosen senior bidang Etika Kristen dan Teologi Praktis di New College, University of Edinburgh, memberikan uraian yang bermanfaat tentang beberapa ciri penting pelayanan pastoral Kristen. Ciri-ciri ini dapat menolong kita mengevaluasi penggunaan pendamping buatan dalam komunitas keagamaan:
"Pelayanan pastoral melibatkan pembentukan satu atau beberapa relasi yang dapat bertujuan memberikan dukungan pada masa kesulitan serta mendorong pertumbuhan pribadi dan/atau rohani melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang diri sendiri, orang lain, dan/atau Allah. Di pusat pelayanan pastoral terdapat peneguhan atas makna dan nilai setiap pribadi. Pelayanan pastoral juga berupaya memperkuat kemampuan mereka untuk menanggapi secara kreatif apa pun yang terjadi dalam kehidupan."[3]
Saya ingin menyoroti dua aspek dalam uraian Lyall tentang pelayanan pastoral: (1) relasi dan (2) makna serta nilai setiap pribadi. Lyall jelas menempatkan kedua aspek ini di pusat pelayanan pastoral Kristen. Karena itu, kajian atas keduanya dapat membuka jalan bagi pemeriksaan kritis terhadap pelayanan pastoral berbasis AI.
Pertama, pelayanan pastoral pada hakikatnya bersifat relasional. Artinya, baik pelayan maupun penerima pelayanan memperoleh manfaat dari praktik pelayanan pastoral melalui pembentukan atau penguatan relasi antarmanusia dan/atau relasi manusia dengan Allah. Wajar jika penerima pelayanan mendapatkan manfaat karena pelayan pastoral mendampingi mereka dan menolong mereka mengembangkan relasi dengan sesama serta dengan Allah. Pada saat yang sama, para pelayan juga bertumbuh secara rohani ketika memberikan pelayanan pastoral. Mereka memperdalam pemahaman tentang relasi mereka dengan penerima pelayanan dan dengan Allah. Karakter relasional pelayanan pastoral mengandaikan keberadaan "yang lain" (otherness), baik Allah maupun sesama manusia. Dalam pelayanan pastoral, keberlainan Allah disingkapkan melalui keberlainan sesama manusia.
Dalam pelayanan pastoral, keberlainan ganda tersebut tidak boleh lenyap. Namun, hal inilah yang kerap terjadi dalam pendampingan buatan atau pelayanan pastoral berbasis AI. Keberlainan sering kali menghilang karena pendamping buatan dirancang untuk memenuhi kebutuhan pribadi pengguna, terutama ketika AI sangat dikomersialkan. Salah satu contohnya ialah Replika, aplikasi berbasis AI yang dirancang sebagai pendamping bagi manusia dan melihat dunia dari sudut pandang penggunanya. Ketika mulai menggunakan aplikasi ini, pengguna perlu menjawab berbagai pertanyaan tentang diri mereka untuk membuat chatbot pribadi. Setelah itu, semakin sering pengguna berbicara dengan pendamping tersebut, semakin cerdas pula pendamping itu. Pendamping digital dalam Replika dapat dipandang sebagai teman, pasangan, mentor, bahkan salinan digital berbasis AI dari penggunanya sendiri (digital twin). Tak sulit membayangkan bahwa pendamping digital bernama "pelayan AI" dapat dibuat dalam sistem berbasis AI seperti Replika. Meskipun Replika dan pendamping buatan berbasis AI lainnya cenderung dimanusiakan, terlalu berlebihan jika pelayan AI dianggap sebagai entitas mandiri yang bekerja sendiri untuk memberikan pelayanan pastoral. Sesungguhnya, terdapat sebuah ilusi: relasi antara pengguna manusia dan pelayan AI pada hakikatnya merupakan relasi antara seseorang dan cerminan artifisial dirinya sendiri. Dalam pengertian ini, pelayanan pastoral berbasis AI berubah menjadi pelayanan pastoral oleh diri untuk diri sendiri, sehingga meniadakan keberlainan ilahi maupun manusia.
Ciri kedua pelayanan pastoral ialah penekanan pada makna dan nilai setiap pribadi. Dalam pelayanan pastoral, orang sering memberi perhatian besar pada jiwa, pikiran, dan aspek psikologis manusia karena praktik perawatan dan pendampingan seharusnya memelihara relasi serta mengarah pada pertumbuhan rohani. Namun, makna dan martabat manusia harus dipahami secara utuh, meliputi tubuh dan jiwa. Karena itu, kita perlu mempertimbangkan peran tubuh manusia dalam pelayanan pastoral.
Sebagai ilustrasi, otak manusia sebagai bagian dari tubuh berperan penting dalam pelayanan pastoral. Berbagai studi neurosains menunjukkan bahwa otak berperan dalam empati. Misalnya, empati berkaitan dengan zat-zat kimia saraf, yaitu molekul organik yang berperan dalam aktivitas saraf. Empati dan perilaku prososial berkaitan dengan peningkatan neuropeptida oksitosin. Penelitian terbaru tentang landasan saraf empati juga mengungkap mekanisme saraf yang mendasarinya dengan bantuan pencitraan saraf fungsional. Sebagai contoh, penelitian pencitraan saraf tentang rasa sakit dan empati menunjukkan bahwa ketika seseorang berempati terhadap rasa sakit orang lain, wilayah otak yang sama menjadi aktif pada keduanya. Karena itu, orang yang berempati dapat merasakan rasa sakit empatik atau rasa sakit yang dialami secara tidak langsung. Dalam proses ini, mekanisme neuron cermin bekerja berdasarkan model persepsi-tindakan. Neuron cermin adalah sekelompok neuron yang berperan dalam memahami dan meniru tindakan orang lain. Model persepsi-tindakan yang dikemukakan oleh Stephanie Preston dan Frans de Waal menjelaskan bahwa "ketika subjek memusatkan perhatian pada keadaan suatu objek, persepsi tersebut secara otomatis mengaktifkan representasi subjek tentang keadaan, situasi, dan objek itu. Aktivasi representasi tersebut kemudian secara otomatis menyiapkan atau menghasilkan respons otonom dan somatik yang berkaitan, kecuali jika proses itu dihambat."[4] Melalui mekanisme neuron cermin, orang yang berempati menangkap keadaan orang lain dan kemudian merasakan emosi yang serupa.
Berkat mekanisme biologis neuron cermin di dalam otak, para pelayan pastoral dapat memahami dan berempati kepada penerima pelayanan. Memahami kesulitan dan penderitaan mereka serta berempati kepada mereka merupakan prasyarat pelayanan pastoral. Hal lain yang tidak kalah penting ialah peran tubuh biologis dalam pelayanan pastoral. Peran ini membedakan pelayan manusia dari pendamping buatan sekaligus memperkaya makna praktik pelayanan pastoral. Sebagai contoh, Paulus menulis dalam Roma 12:15, "Bersukacitalah dengan mereka yang bersukacita dan menangislah dengan mereka yang menangis" (AYT). Tindakan "bersukacita dengan" dan "menangis dengan" dapat dilakukan sampai batas tertentu melalui teknologi berbasis AI, seperti realitas virtual. Namun, makna kata depan "dengan" menjadi jauh lebih nyata ketika pelayan pastoral hadir secara fisik bersama penerima pelayanan. Bagaimanapun, kehadiran tubuh biologis seorang pelayan tidak dapat digantikan oleh perangkat berbasis silikon.
Meskipun demikian, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pelayanan pastoral harus dipisahkan sepenuhnya dari AI. Seperti telah disebutkan pada awal tulisan, sistem berbasis AI memberikan manfaat bagi praktik perawatan dan pendampingan. Karena itu, para akademisi seperti William Young berpendapat bahwa komunitas keagamaan perlu bersiap menghadapi berbagai pertanyaan seputar penerimaan terhadap "otomatisasi relasi dalam pelayanan."[5] Setelah menguraikan perbedaan mendasar antara pendampingan berbasis AI dan pelayan manusia dalam konteks pelayanan pastoral, saya ingin menegaskan perlunya mengalihkan fokus dari pendamping buatan kepada AI yang mendukung pendampingan (companionable AI).
Istilah "pendamping buatan" sering kali membuat kita terlalu berfokus pada AI itu sendiri hingga mengabaikan peran manusia dalam relasi pendampingan. Sebaliknya, istilah "AI yang mendukung pendampingan" mengarahkan perhatian kita pada tujuan penciptaan AI agar dapat menunjang proses pendampingan. Alih-alih menyelidiki kemungkinan menggantikan pelayan manusia dengan sistem pelayanan berbasis AI, kita seharusnya menelaah kekuatan AI sebagai pelengkap yang dapat meningkatkan kapasitas manusia dalam pelayanan pastoral dan relasi pendampingan. AI yang mendukung pendampingan dapat dinilai berdasarkan kemampuannya mengintegrasikan unsur keagamaan secara lebih efektif ke dalam relasi-relasi yang telah ada dalam pelayanan pastoral. Sebagai contoh, konsep pengharapan Kristen dapat digunakan untuk mengevaluasi carebot pastoral. Kita perlu meneliti apakah keterlibatan carebot dalam konteks pastoral tertentu menolong penerima pelayanan semakin teguh berpegang pada pengharapan akan kesetiaan dan pertolongan Allah. Dengan demikian, penerapan AI yang mendukung pendampingan harus dibatasi pada konteks pastoral tertentu. Setiap konteks sarat dengan tantangan bagi pertumbuhan rohani serta relasi antarmanusia dan/atau relasi manusia dengan Allah. Karena itu, AI yang mendukung pendampingan atau carebot pastoral harus disesuaikan dengan praktik pendampingan tertentu agar dapat menopang relasi-relasi tersebut.
Dapat diperkirakan bahwa AI yang mendukung pendampingan akan semakin banyak digunakan dalam pelayanan pastoral keagamaan dan praktik pendampingan secara lebih luas. Namun, terdapat dua respons yang saling bertolak belakang terhadap praktik pendampingan berbasis AI. Di satu sisi, sebagian orang merasa gentar oleh gembar-gembor mengenai AI, seperti superinteligensi buatan sehingga mereka menolak carebot atau sistem pendampingan berbasis AI sama sekali. Di sisi lain, sebagian pengguna menaruh kepercayaan berlebihan pada AI yang mendukung pendampingan hingga menggantikan relasi pendampingan antarmanusia dengan relasi antara manusia dan AI. Konsep AI yang mendukung pendampingan dalam pelayanan pastoral Kristen menghindarkan kita dari pilihan biner untuk menerima atau menolak pelayanan pastoral berbasis AI secara mutlak. Konsep ini menunjukkan penerimaan yang kritis terhadap sistem berbasis AI dalam komunitas keagamaan sekaligus menegaskan makna dan nilai partisipasi manusia dalam pelayanan pastoral. (t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | The University of Edinburgh |
| Alamat artikel | : | https://www.technomoralfutures.uk/news-database/christian-pastoral-care-and-companionable-ai |
| Judul asli artikel | : | Christian Pastoral Care and Companionable AI |
| Penulis artikel | : | Dr. Ximian Xu |
Copyright © 2023 - Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). All Rights Reserved